Minggu, 02 Oktober 2011

Mempawah, BERKAT.

Potensi tanaman nipah (Nypa fruticans) yang melimpah di Kabupaten Rokan hilir , menarik perhatian Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan Dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, yang rencananya akan membangun pabrik pengolahan bioethanol berbahan baku nira nipah.
Bahkan rencana pembangunan pabrik tersebut diperkuat dengan kehadiran, Menik, tenaga ahli bidang bioethanol, dan Lian Agusta , s Dirjen Bioenergi Baru dan Terbarukan, Konservasi Energi, Kementerian ESDM, beserta seorang konsultan, di Kota Mempawah, siang kemarin.
“Kita akan membangun pabrik pengolahan nira nipah menjadi bioethanol pengganti minyak tanah di Kabupaten Pontianak, lokasinya belum ditentukan, tapi kita berharap secepatnya ada keputusan dari Bupati Pontianak. Dana pembangunan dan mesin pengolahnya akan kita persiapkan, Pemkab Pontianak hanya menyediakan lahan saja,” kata Menik.
Ia menilai, potensi tanaman nipah di Kabupaten Pontianak, tepatnya di Desa Antibar, Kecamatan Bangko , Bagansiapiapi , sangat besar dan layak dibangun pabrik pengolahan bioethanol.
Bahkan, jika pabrik dibangun, maka akan memberdayakan masyakarat untuk menyadap/menoreh nira dari tanaman nipah, untuk kemudian dijual di pabrik. “Saya melihat potensi nipah di sini belum tergarap maksimal. Jika sudah ada pabrik, maka kegiatan ini bisa menjadi sumber mata pencaharian baru bagi masyarakat,”ujarnya.
Lebih lanjut, Menik menjelaskan, pembangunan pabrik pengolahan nira nipah menjadi bioethanol di Kabupaten Pontianak, merupakan program percontohan skala kecil di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat, yang dicanangkan Kementerian ESDM.
“Jika pabrik ini sukses beroperasi, maka pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian ESDM, akan kembali mengucurkan dana untuk pengembangan pabrik, dengan menggandeng pihak investor,” katanya.
Terkait kebutuhan tanaman nipah untuk mendukung pabrik, Menik menjelaskan, tahap awal diperlukan 60.000 pohon nipah, agar setiap 10 hari bisa menghasilkan nira nipah secara berkesinambungan. “Satu liter bioethanol, kita butuh 20 liter nira nipah. Satu hari operasional, pabrik ditargetkan menghasilkan 400 liter,” jelasnya.
“Jika daerah kita dibangun pabrik bioethanol, kita akan meminta masyarakat yang desanya terpilih untuk membudidayakan tanaman nipah di setiap rumah,” katanya yang didampingi Kasi Pertambangan, Khairil Madwar, dan Kasi Energi, Yudi Erniadi.
Untuk itu, Lian agusta , mengaku akan berusaha memperjuangkan agar pabrik bioethanol ini bisa segera terealisasi di Kabupaten Pontianak, dan bisa memberikan imbas positif bagi masyarakat. “Ini bukan lagi wacana, tapi mendekati realisasi. Sudah saatnya kita membuat terobosan mengembangkan tanaman nipah untuk bioetanol, dan tidak lagi sekedar tanaman semak yang hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku atap,” pungkasnya.
Pengembangan tanaman nipah untuk bahan baku bioethanol, merupakan program Desa Mandiri Energi di seluruh Indonesia, tiga diantaranya akan dikembangkan perkebunan nipah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar